thumbnail

Mengenal Peluang Bisnis Tanaman Hias yang Bikin Antusias 2021

15 April 2021

Cara hidup manusia di berbagai belahan dunia berubah drastis sejak pandemi menyerang. Mobilitas terbatas dan memaksa banyak orang untuk menghabiskan waktu di dalam rumah. Tentu saja hal ini menciptakan masalah baru yaitu perasaan terasing dan bosan.

Manusia yang sejatinya adalah makhluk sosial yang merasa sulit beradaptasi ketika ruang geraknya dibatasi. Banyak orang kemudian mencari pelarian, salah satunya melalui tanaman.

Tren tanaman hias pun muncul kembali. Tren ini berpotensi menjadi sumber penghasilan baru, loh. Para pebisnis tanaman hias ini, kini tak hanya sekadar menjual saja. Mereka juga tergabung dalam komunitas yang salah satu tujuannya untuk membudidayakan tanaman hias tersebut. Alasannya karena tingginya permintaan dari publik membuat pasokan tanaman hias menjadi langka.

Sebenarnya menanam tanaman hias bukanlah hal baru bagi sebagian orang. Namun, biasanya pasarnya cukup terbatas.

Pandemi membuat lebih banyak orang terdorong untuk bercocok tanaman. Selain untuk mengusir rasa bosan, bercocok tanaman juga menjadi kegiatan positif. Salah satunya yakni, memberi ketenangan pada jiwa dan menimbulkan semangat atau antusias.

Tren ini berpotensi menjadi sumber penghasilan baru, lo. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diketahui sebelum memulai bisnis tanaman hias.

Harus Tahu Caranya Membudidayakannya

Akibat mulai sulitnya pasokan tanaman hias. Pebisnis tanaman hias pun dituntut untuk tahu bagaimana caranya membudidayakan tanaman. Kamu harus mengetahui jenis-jenis tanaman, memperbanyak bibit, hingga merawatnya sampai ke kondisi siap jual.

Prosesnya memang lama. Contohnya tanaman anthurium yang membutuhkan waktu 4—6 bulan hingga siap dijual. Pebisnis tanaman hias harus tahu hal ini karena berkaitan erat dengan perputaran modal.

Bergabung ke dalam komunitas

Beberapa keluhan dari perdagangan tanaman hias adalah harga jual yang tidak seragam. Ada pemain baru yang mematok harga terlalu tinggi atau malah menipu pembeli. Hal ini dapat merusak ekosistem bisnis tanaman hias. Karena itu pebisnis tanaman hias diharapkan bergabung dengan komunitas agar harga jual dapat ditetapkan secara wajar.

Pebisnis tanaman hias justru perlu mengedukasi pembeli agar mereka tidak kapok dalam berbelanja. Tentunya bila para pembeli tanaman hias ini merasa puas, mereka tak hanya membeli lagi tapi juga dapat memberikan testimoni. Mereka bisa menarik datangnya pembeli yang baru.

Lebih dari Sekadar Hanya Menjual Tanaman

Perputaran uang tanaman hias sejujurnya sedikit lambat karena harus menunggu masa panen hingga siap jual hingga berbulan-bulan. Karena itu pebisnis tanaman hias tidak hanya perlu menjual tanaman saja, tapi juga perlengkapan tambahan seperti pupuk, sekop, dan pot. Pebisnis tanaman hias juga bisa membuka kelas pelatihan perawatan tanaman dengan bermodal demplot mini agar dapat menjadi tempat praktik para pembeli untuk bercocok tanam.

Tahu Caranya Memasarkan

Kini, memasarkan tanaman hias tidak lagi dengan cara-cara tradisional seperti membuka toko. Banyak pebisnis tanaman hias yang memasarkan tanamannya lewat Facebook, Instagram, Whatsapp, bahkan marketplace. Hal ini tentu lebih murah dibanding membuka toko karena tidak ada harga sewa. Namun, agar bisnis berkembang pesat, pebisnis perlu mempertimbangkan penggunaan iklan di media sosial.

Salah satu tips yang dapat dicoba adalah menjual dengan cara soft selling melalui media sosial seperti Instagram. Pebisnis tidak melulu hanya posting foto tanaman saja. Pebisnis juga perlu memposting edukasi kepada pembeli mengenai cara merawat tanaman.

Sebab, tidak semua pembeli tanaman hias adalah orang yang mengerti caranya bercocok tanam. Sebagian lagi baru memulai sehingga tidak memiliki banyak pengetahuan dalam merawat tanaman.

Bagikan Artikel ini

whatsappwhatsappwhatsapp

Promo & Blog Terbaru